Minggu, 03 September 2023

REFLEKSI DWI MINGGUAN PERTAMA PENDIDIKAN CALON GURU PENGGERAK ANGKATAN 9

Refleksi Model Driscoll By Mona Amelia, S. Pd, Calon Guru Penggerak Angkatan 9, Guru Matematika dari SMA N 2 Sijunjung

03 September 2023

Lebih kurang sudah 2 minggu penulis mengikuti Pendidikan Calon Guru Penggerak angkatan 9. Bertemu, berdiskusi dan belajar dari narasumber handal  dibidangnya serta dengan Bapak Ibu guru SD, SMP dan SMA dari berbagai daerah. Kami berdiskusi bersama mulai dari mengenal diri sendiri, mengumpamakan diri dengan sebuah benda dan berikan sedikit jabaran maknanya. Awal yang menyenangkan untuk saling mengenal satu sama lain. Dilanjutkan dengan memahami filosofi KI HAJAR DEWANTARA dimana mendidik dan mengajar adalah proses memanusiakan manusia, sehingga harus memerdekakan manusia dan segala aspek kehidupan baik secara fisik, mental, jasmani dan rohani. Pembelajaran di modul ini menggunakan alur MERDEKA (Mulai dari diri, Eksplorasi konsep, Ruang kolaborasi, Refleksi terbimbing, Demonstrasi kontekstual, Elaborasi pemahaman, Koneksi antar materi dan Aksi nyata). Dari pembelajaran ini saya memahami bahwa pendidikan yang digagas KHD (KI Hajar  Dewantara ) ini konsep pendidikan yang memanusiakan manusia dan menghambakan siswa, seperti menuntun (selamat dan berbahagia), kodrat anak (merdeka dan bermain), berpihak pada anak (menghamba pada anak), bukan taburasa (anak bukan kertas kosong) budi pekerti (watak dan karakter) kodrat alam dan kodrat zaman, serta menebalkan laku konteks- sosiokultural, ini sangat relevan dengan kebutuhan pendidikan di Indonesia khususnya dalam menghadapi bonus demografi atau angka usia produktif pertumbuhan penduduk Indonesia menuju tahun 2045, yaitu 100 tahun Indonesia Merdeka, menuju Indonesia emas. 

Dalam menuntun pertumbuhan kodrat anak, KHD mengibaratkan peran guru atau pendidik seperti seorang petani atau tukang kebun. Petani hanya dapat menuntun tumbuhnya jagung, atau seorang petani sayuran, ia dapat memperbaiki kondisi tanah, memelihara tanaman, menyiramnya setiap hari, memberi pupuk, membasmi hama ulat-ulat atau jamur-jamur yang mengganggu hidup tanaman tersebut. Petani tidak dapat memaksa agar jagung tumbuh menjadi padi ataupun tanaman sayuran sawi tumbuh menjadi pepaya. Begitupun dengan guru atau pendidik. Pendidik hanya bisa menuntun dan merawat tumbuh kembangnya anak sesuai dengan kodratnya. Kemudian, masih menurut KHD, pendidikan anak berhubungan dengan  kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat alam, kita sebagai pendidik harus memberikan teladan yang baik dengan harapan siswa dapat meneladaninya demi membentuk karakter siswa misalnya, bersikap mengayomi, sopan dan berintegritas  (karakter moral dan karakter kinerja) terhadap sesama baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan masyarakat (social competences). Sedangkan kodrat  zaman, pada pendidikan global, yaitu penddikan yang masuk pada era society 5.0 dan era disrupsi menekankan pada kemampuan anak untuk memiliki skill dan karakter yang kuat serta mampu memecahkan masalah (complex problem solving), apalagi ditengah kemajuan zaman saat  ini guru dan  anak dituntut untuk bisa menguasai teknologi informasi sebagai salah satu instrumen untuk mensukseskan pendidikan di Indonesia dan dalam kontek menuju digitalisasi pendidikan atau sering disebut era industri 4.0 dan masyarakat 5.0 (society 5.0).

Hasil dari membaca, berdiskusi serta menganalisis dari filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara ini, sekaligus melihat realitas di lapangan, khusususya di sekolah, penulis sadar bahwa implementasi pembelajaran baik yang berpihak pada murid serta menuntun murid masih banyak yang harus diperbaiki. Cakrawala dan mindset penulis juga terbuka dalam memahami dan mengimplementasikan pendidikan sebagaimana yang dicetuskan oleh KHD dengan teori Trikonnya, yaitu:kontinu tidak melupakan budaya, konsentris memanusiakan manusia serta konvergen memerdekan anak. yang betul-betul dengan tujuan untuk mendidik, mengajar dan mendorong anak untuk mau belajar, memiliki motivasi dan imajinasi dalam merumuskan serta harapan untuk mewujudkan cita-cita mereka menjadi manusia unggul, serta bermanfaat bagi sesamaKhususnya untuk penulis yang merupakan guru mata pelajaran matematika dimana hampir dominan siswa kurang menyukai mapel ini. Setelah mempelajari banyak hal dalam beberapa hari, penulis mulai memperbaiki diri dalam membuat aksi nyata dalam konteks manajemen kelas yang semuanya harus betul -betul berpihak pada murid secara holistik sesuai yang diajarkan oleh KHD, yaitu membangun watak dan karakter membentuk pribadi yang mandiri bisa berdiri sendiri tidak tergantung dengan orang lain serta dapat mengatur diri sendiri. Jika awal dulu sebelum pendidikan, beberapa murid masih merasakan keraguan, canggung dan takut selama diskusi, kejadian berbeda mulai terlihat semenjak penulis merubah cara dalam memperlakukan murid. Murid yang semula pendiam, mulai aktif dan menunjukkan diri. Penulis pun merasa lebih nyaman dan percaya diri selama belajar. Penulis merasakan efeknya secara langsung, penulis sadar bahwa ketika guru mengajar dengan hati, murid belajar dengan happy. 

Sekarang penulis menjadi lebih baik dalam mindset memandang ataupun memperlakukan muris serta mempertimbangkan kondisi murid dalam proses pembelajaran matematika dengan harapan suasana kelas yang nyaman, guru yang memperlakukan murid dengan baik, dan memahami kemampuan dasar murid dapat menjadikan suasana pembelajaran yang merdeka bagi setiap murid. Penulis akan terus belajar dari masa ke masa mengikuti perkembangan yang dialami oleh murid. Penulis bisa belajar dari narasumber dan Bapak Ibu guru hebat agar bisa siap menghadapi segala peristiwa di dalam kelas dengan berbagai kondisi. Penulis membutuhkan support sistem yang penuh dari keluarga, teman, unsur pimpinan di sekolah, dan motivasi dari diri sendiri agar bisa berkembang secara keilmuan, belajar dari waktu ke waktu dan dapat menindaklanjuti setiap refleksi yang dilakukan. Bagian yang ingin saya kerjakan terlebih dahulu adalah memperbaiki diri (tergerak) dan menjadi contoh bagi Bapak Ibu guru (bergerak) lalu mengajak rekan rekan ikut melakukan praktik baik (menggerakan). Hal yang paling ingin saya sharing untuk bersama-sama dilakukan adalah pembelajaran yang menghambakan murid sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman karena memang hal ini yang masih banyak belum dapat dilaksanakan di sekolah penulis.

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 My Story about my study.. BAB 1 na, ada revisi, tapi belum na revisi, na butuh aura mistis perpustakaan dalam mengetik tesis.. BAB 2 na sud...